Minggu, 05 Desember 2010

5 Tahap Perencanaan Keuangan(3)

5 Tahap Perencanaan Keuangan(3)

Kembali ke topik 5 Tahap Perencanaan Keuangan, dalam artikel-artikel sebelumnya saya sudah menyebutkan bahwa untuk melakukan perencanaan keuangan pribadi ataupun keluarga, kita harus melalui 5 tahap besar, yaitu:
1. Menentukan Tujuan Keuangan.
2. Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
3. Membuat Rencana Keuangan.
4. Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
5. Monitor dan Evaluasi Berkala.

Dalam 2 artikel saya sebelum ini, saya sudah menjelaskan mengenai tahap pertama dan tahap kedua. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas secara detil mengenai tahap ketiga, yaitu Membuat Rencana Keuangan.


Membuat Rencana Keuangan.

Tung Desem Waringin, dalam seminarnya Finansial Revolution mengatakan bahwa secara sederhana agar bisa menjadi kaya, apa yang harus kita lakukan adalah:

  • Mengeluarkan lebih sedikit dari yang diterima (alias pengeluaran harus lebih sedikit daripada pendapatan)
  • menginvestasikan selisihnya dan menginvestasikan ulang hasilnya untuk pertumbuhan bunga berbunga (compound interest)

Jadi disini kita melihat bahwa ada 2 langkah. Langkah pertama bisa dibantu dengan cara membuat Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga. Sementara untuk langkah kedua, kita akan membuat rencana keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan yang telah kita rumuskan sebelumnya (Baca email saya yang berjudul 5 Langkah Perencanaan Keuangan(1) untuk menentukan tujuan keuangan Anda).

Membuat Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga

Di tanggal tua seringkali kita mendengar keluhan bahwa uang sudah habis. Mesti menunggu gajian. Dan lucunya lagi, apabila kita tanyakan kenapa uangnya bisa habis? Bulan ini belanja apa saja? Kebanyakan orang tidak bisa menjawab. Mengapa? Karena pengeluaran tidak terkendali. Agar problem seperti ini tidak terjadi untuk keuangan kita, kita perlu alat bantu untuk mengontrol pengeluaran. Salah satunya adalah Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga.

Bagaimana cara membuat Anggaran? Gampang. Secara umum anggaran terbagi 2 bagian, yaitu PENDAPATAN dan PENGELUARAN. Pada bagian pendapatan, kita membuat daftar sumber-sumber penghasilan kita, beserta jumlahnya. Misalkan saja untuk keluarga Pak Budi adalah keluarga yang suami dan istrinya bekerja, ada 2 jenis pendapatan yaitu gaji suami dan gaji istri.

PENDAPATAN
1. Gaji Suami Rp. 4.000.000
2. Gaji Istri Rp. 3.000.000
=================================
Total Pendapatan Rp. 7.000.000

Nah, dari pendapatan ini, kita memberi jatah pengeluaran untuk masing-masing pos. Ada 12 pos pengeluaran yang lazim digunakan yaitu tabungan, makanan/kebutuhan harian, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, telekomunikasi, asuransi, pembayaran kredit, dan lain- lain. Sebagai contoh:

PENGELUARAN:
Tabungan Rp. 700.000
Makanan/Kebutuhan Harian Rp. 1.500.000
Pakaian Rp. 400.000
Pendidikan Rp. 700.000
Kesehatan Rp. 450.000
Rekreasi Rp. 1.000.000
Transportasi Rp. 400.000
Telekomunikasi Rp. 450.000
Asuransi Rp. 500.000
Pembayaran Kredit Rp. 400.000
Lain-lain Rp. 500.000
======================================
Total Pengeluaran Rp. 7.000.000

Ini adalah pengeluaran yang anda RENCANAKAN. Nantinya, pengeluaran yang sebenarnya akan berbeda dari rencana Anda. Tugas Anda setelah ini adalah secara berkala mengawasi pengeluaran untuk masing-masing pos, agar tidak melenceng jauh dari rencana. Misalkan saja Anda merencanakan Rp. 1.000.000,- untuk pos pengeluaran rekreasi Anda. Pada tanggal 20, total pengeluaran Anda untuk rekreasi sudah mencapai Rp. 900.000, maka Anda harus mengurangi kegiatan rekreasi Anda atau setidaknya mencari kegiatan rekreasi yang tidak terlalu banyak menghabiskan uang. Sehingga Anda hanya menghabiskan Rp. 100.000 untuk kegiatan rekreasi hingga akhir bulan. Jadi disini pengeluaran untuk pos rekreasi akan sesuai dengan anggaran Anda.

Perlu diingat bahwa dalam membuat anggaran, taruhlah TABUNGAN pada pengeluaran paling atas. Mengapa? Sebab pengeluaran manusia itu sifatnya flexible, bisa diperbesar maupun diperkecil. Namun, ada kecenderungan untuk menghabiskan seluruh uang yang ada. Oleh karena itu, sejak awal berilah jatah pada tabungan. Setelah itu baru lakukan perhitungan untuk pos pos pengeluaran lainnya. Begitu gajian, langsung pindahkan jatah tabungan Anda ke sebuah rekening yang khusus tabungan. Rekening tabungan ini tidak boleh ditarik lagi kecuali keadaan darurat.

Untuk berhasil melaksanakan langkah pertama untuk menjadi kaya seperti yang disebutkan oleh Tung Desem Waringin, Anda harus bisa menyisihkan minimal 10% dari pendapatan Anda untuk ditabung. Nantinya tabungan inilah yang akan kita gunakan untuk langkah kedua, berinvestasi dengan konsep compound interest.

Berinvestasi dengan Konsep Compound Interest

Albert Einstein, ilmuwan paling jenis di dunia, mengatakan bahwa salah satu keajaiban dunia adalah compound interest. Wah, kenapa begitu?

Katakanlah sekarang kita memiliki uang menganggur sebesar Rp. 1.000.000. Uang ini kita tabung dengan bunga sebesar 6% per tahun. Di tahun mendatang, kita mendapatkan bunga sebesar:
Bunga = Rp. 1.000.000 * 6%
Bunga = Rp. 60.000

Nah, bunga ini kita masukan kembali ke dalam tabungan sehingga turut berbunga. Pada tahun kedua, bunga kita menjadi :
Bunga = Rp. 1.060.000 * 6%
Bunga = Rp. 63.600

Perhatikan bahwa bunga yang kita dapatkan pada tahun pertama, kita investasikan ulang ke tabungan kita. Jadi bunga kita akan turut berbunga, sehingga terjadi pertambahan bunga sebesar Rp. 3.600,-. Ajaibnya, bunga yang turut berbunga ini akan menyebabkan pertumbuhan yang luar biasa pada tabungan kita. Dalam waktu 12 tahun, tabungan kita akan menjadi Rp. 2.012.196,- atau menjadi 2 kali lipat jumlah awal. Dan kalau dibiarkan 12 tahun lagi, maka tabungan ini akan berkembang menjadi 2 kali lipat lagi, alias Rp. 4.048.934,-. Pertumbuhan investasi seperti inilah yang disebut dengan compound interest. Ingat, bunga yang kita dapat harus diinvestasikan kembali.

Konsep compound interest inilah yang akan kita gunakan dalam menyusun rencana keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Sebagai contoh, misalkan Pak Budi hendak membuat rencana keuangan untuk mendanai kuliah anaknya. Untuk membayar uang masuk kuliah anaknya, Pak Budi membutuhkan uang sebesar Rp. 20.000.000,-. Berapakah jumlah uang yang harus disisihkan oleh Pak Budi setiap bulannya?

NB: Untuk menyederhanakan perhitungan dalam contoh, kita menganggap bahwa uang masuk kuliah tidak mengalami inflasi. Apabila Anda tertarik untuk mendapatkan perhitungan yang lebih canggih dan lebih akurat, silahkan baca ebook saya “Tips dan Trik Membuat Rencana Keuangan Pribadi Menggunakan Excel”.

Perhitungan compound interest sangat rumit. Di kuliah-kuliah, biasanya mahasiswa diajarkan untuk melakukan perhitungan dengan cara menggunakan tabel. Di dunia bisnis, biasanya orang membeli kalkulator finansial, yang memiliki fungsi-fungsi khusus untuk melakukan perhitungan compound interest. Bagi Anda yang memiliki komputer, Anda beruntung! Komputer Anda dapat melakukan perhitungan compound interest dengan cepat dan mudah! Caranya? Gunakan aplikasi Excel. Untuk menjawab pertanyaan pada contoh soal terakhir, silahkan download worksheet Excel yang telah saya sediakan di:

http://www.keuanganpribadi.com/dl/pendidikan.xls

Silahkan buka file excel yang telah saya sediakan. Pada worksheet tersebut, Anda dapat melihat sebuah tabel, dimana bagian horizontal menunjukan berapa lama waktu yang Anda punya. Sementara bagian vertikalnya menunjukkan berapa tingkat suku bunga investasi Anda.

Untuk menjawab pertanyaan Pak Budi, kita memerlukan 2 buah data lagi yaitu:

  • Berapa lama waktu yang dimiliki oleh Pak Budi?
  • Apakah produk investasi yang digunakan? Berapa tingkat return/bunganya?

Biasanya seorang anak akan memasuki kuliah pada usia 18 tahun. Jadi andaikata sekarang anak Pak Budi berusia 10 tahun, maka Pak Budi masih memiliki waktu sebanyak 8 tahun untuk berinvestasi. Sekarang kita lihat dalam worksheet. Data jumlah uang yang perlu ditabung oleh Pak Budi, apabila jangka waktu menabungnya adalah 8 tahun, berada pada kolum I.

  • Apabila Pak Budi menggunakan produk deposito dengan tingkat suku bunga sekitar 5% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 169.865 per bulannya.
  • Apabila Pak Budi menggunakan produk reksa dana pasar uang dengan tingkat return sekitar 8% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 149.400 per bulan.
  • Apabila Pak Budi menggunakan produk reksa dana saham dengan tingkat return sekitar 20% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 85.731 per bulan.

Apakah kesimpulan yang dapat Anda tarik dari data yang ditunjukan oleh worksheet diatas? Bahwa, SEMAKIN TINGGI TINGKAT SUKU BUNGA, maka jumlah uang yang perlu ditabung per bulannya menjadi SEMAKIN KECIL. Perlu diingat disini bahwa produk investasi yang tingkat suku bunganya tinggi biasanya diikuti dengan tingkat resiko yang tinggi juga. Apakah Anda siap untuk menanggung resiko investasi?

Nah sekarang, bagaimana jika ceritanya Pak Budi menunda investasi untuk dana pendidikan anaknya? Katakanlah tabungan untuk pendidikan ini ditunda selama 3 tahun. Sekarang Pak Budi hanya memiliki waktu 5 tahun untuk menyiapkan dana pendidikan anaknya. Berapakah jumlah uang yang perlu ditabung per bulannya? Jawabannya bisa dilihat pada worksheet yang saya sediakan, pada kolum H.

  • Apabila Pak Budi menggunakan produk deposito dengan tingkat suku bunga sekitar 5% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 294.091 per bulannya.
  • Apabila Pak Budi menggunakan produk reksa dana pasar uang dengan tingkat return sekitar 8% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 272.195 per bulan.
  • Apabila Pak Budi menggunakan produk reksa dana saham dengan tingkat return sekitar 20% per tahun, maka Pak Budi harus menabung sebesar Rp. 196.544 per bulan.

Sekarang kita analisa kembali jawaban yang sekarang dengan jawaban sebelumnya. Untuk tingkat suku bunga yang sama-sama 5% per tahun, apabila jangka waktu yang tersedia 8 tahun, maka jumlah yang harus ditabung adalah Rp. 169.865,- per bulan. Namun apabila jangka waktu yang tersedia hanya 5 tahun, maka jumlah yang harus ditabung meningkat menjadi Rp. 294.091,-. Jumlah yang harus Pak Budi bayar hampir 2 kali lebih mahal. Artinya? Setiap penundaan terhadap investasi, menyebabkan Anda harus membayar LEBIH MAHAL untuk mencapai tujuan Anda. Perlu diingat bahwa dalam investasi, WAKTU ADALAH TEMAN ANDA. Semakin lama jangka waktu Anda berinvestasi, maka beban yang harus Anda tanggung akan menjadi semakin ringan. Mulailah
berinvestasi sekarang juga.

sumber artikel

http://www.keuanganpribadi.com

0 komentar:

Poskan Komentar